Mother
December 26, 2011
–Forgive me to write this note in Bahasa Indonesia, which may make this difficult to understand. I dedicate this note for all women, who deliberately choose her life with her own full will to be ‘only’ a house wife.
——
Memberi manfaat pada lingkungan. Mengeluarkan kemampuan terbaik untuk berprestasi. Menjadi cahaya bagi peradaban. Tampil di muka umum. Mengambil alih peran laki-laki.
Silakan.
Tidak ada lagi batasan bagi wanita modern manapun di muka bumi ini untuk memilih, menjadi apapun yang ia inginkan. Termasuk juga menjadi seorang ibu rumah tangga.
Saya mengangkat topi. Setinggi-tingginya. penghargaan saya haturkan kepada wanita-wanita hebat yang berhasil membagi waktu di sepanjang hidupnya untuk bekerja, hidup di luar, dan tetap membesarkan anak2nya dengan baik. Sungguh, bekerja dengan pola switchtasking bukan perkara mudah. Walaupun konon wanita dianugerahi kemampuan yang lebih baik daripada lelaki soal mengerjakan beberapa pekerjaan dalam waktu yang nyaris bersamaan, melakukannya dalam waktu lama tentu memerlukan energi yang tidak sedikit.
Saya sangat kagum pada para mahasiswi yang demikian aktif di banyak kegiatan, atau para wanita aktivis, atau para peneliti yang berlomba-lomba dengan riset yang memajukan peradaban. Meski demikian saya sadar, saya tidak berada pada masa atau konsep yang sama mengenai bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat. Juga bahwa saya tidak cukup percaya diri untuk menjanjikan performa yang baik dengan banyak kewajiban yang harus sy pikul bersamaan.
Bahwa ibu adalah madrasah pertama seorang manusia, saya selalu yakin. Darimana mereka yang sedang bergiat ini melakukan banyak hal baik di dunia ini, jika tidak berasal dari seorang ‘ibu’? Saya percaya mereka dibesarkan dengan cara yang baik, sehingga tahu bagaimana menjadi baik. Tentu, untuk menanamkanĀ karakter yang baik pada anak-anak juga bukan tugas yang mudah. Sama sekali bukan. Juga untuk bersabar di dalam rumah saja, menahan kemudian menyalurkan pengetahuan dari pendidikan yang sudah dicapai dengan susah payah, untuk terkadang menundukkan ego pribadi demi sebuah pengabdian seumur hidup yang tak berbayar.
Saya memang belum menjadi ibu, belum berkesempatan mencicipi amanah besar tersebut. Segera, semoga. Satu hal yang saya tahu, dari sekian banyak tugas dan pekerjaan yang dapat dipertukarkan antara wanita dan pria, menjadi ibu adalah satu-satunya tugas yang tidak bisa diambil alih oleh pria.
Hormat saya sedalam-dalamnya untuk para ibu di seluruh dunia, yang dari rahim dan kasihnya lahir para pembaharu dunia.
Selamat hari ibu, setiap hari
Posted from WordPress for Android
Setuju dengan ini. Sayangnya berada di lingkungan yang berpendapat sebaliknya. Bagaimana menurut tiffa?
Maksudnya lingkungan Mitha melarang mitha jd ibu? Atau sekedar meminta Mitha untuk sekolah tinggi-tinggi/bekerja sampai sukses?
Saya pikir ini masalah menyamakan persepsi, mengomunikasikan goal pada pihak2 yang berkepentingan. Banyak pihak yang menyatakan, ketika wanita ingin menjadi ibu rumah tangga saja, dituduhnyalah ia malas. Disebutnyalah ia wanita yang tidak ingin berbagi manfaat. Padahal sama saja kan. Ketika mereka yang lain bekerja untuk memajukan peradaban dengan banyak cara, dengan tujuan mencapai kondisi dunia yang lebih baik, mereka yang ingin menjadi ibu rumah tangga saja juga punya goal yang sama: mendampingi proses pembentukan generasi baru yang kualitasnya lebih baik.
Sudah pernah menyampaikan alasan begitu belum? Saya sudah. Alhamdulillah dimengerti
*tentu dengan syarat, yaitu mempersiapkan diri dgn ilmu-nya juga, walaupun kita sama-sama tahu, tidak pernah ada sekolah untuk menjadi orangtua*
Semoga bersegera menjadi ibu, ya Mit ;p